Tidak Ada Toleransi

Pukul 16.30 hari ini saatnya jam pulang kantor, Yogyakarta diguyur hujan lebat sekali. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum kuliah Statistika dimulai. Dengan santai membaca Text Book Statistik sambil sesekali nge-plurk dan nge- facebook. Tak terasa sudah hampir jam setengah lima. Segera ku shutdown komputer dan segera menuju ke ruang kelas yang terletak di lantai 3. Sebelumnya ku sempatkan diri dulu mampir kemar kecil sebentar karena cuaca yang dingin basa basi sebentar dengan teman yang kebetulan ketemu di depan kamar kecil dan segera menuju ruang kelas. Ketika akan memasuki ruang kelas tiba-tiba Dosen menghalangi "Silahkan Tunggu Luar !!!" --- Segera kulihat jam di HPku, halah aku telat 3 menit.

Hanya telat 3 menit, dengan mudahnya nilai 10 point melayang gara-gara tidak diizinkan mengikuti test kecil. Lobi - lobi dengan dosen dengan harapan setidaknya ada test kecil susulan atau extra project berujung kecewa. Benar-benar TIDAK ADA TOLERANSI

Sampai di kost, kejadian tadi sore itu membuatku merenung. Sejujurnya kejadian tadi sore sudah beberapa kali terjadi. Dan kesemuanya terjadi di semester kemarin, sebuah kesalahan kecil yang berakibat fatal.

Mengawali serangkain kejadian itu adalah ketika 2 minggu sebelum TTS semester kemarin, entah karena bagaimana (Dokter menyatakan kecapean) aku sakit keras hingga harus dirawat dikampung halaman selama seminggu (Di Yogyakarta tidak ada yang menemani di rumah sakit jadi dideportasi). Apesnya di minggu itu ada tugas Pemrograman Basis Data lanjut yang harus dikumpulkan. Karena kondisi yang tidak memungkinkan itu, akhirnya menghubungi asisten agar tugas bisa dikumpulkan lewat email. Beberapa saat kemudian, terdengar kabar dari asisten bahwa tugas harus dipresentasikan jadi tidak bisa dikirim lewat email dengan kata lain nilaiku kosong untuk tugas ini. Dengan panik segera menghubungi dosen pengampu untuk meminta pertimbangan dan kebijaksanaan karena tidak bisa mengumpulkan tugas bukan karena malas atau tidak bisa tapi karena sakit. Awalnya sang dosen menolak tapi setelah terus di desak akhirnya diizinkan mengumpulkan minggu depannya dengan nilai yang cuma setengah. Cukup kecewa juga mengingat tugas ku selesai dengan baik dan sudah selesai kukerjakan jauh-jauh hari sebelumnya. Akhirnya mata kuliah ini keluar dengan nilai A- . Coba kalau tugas itu nilainya full... hmmm walau begitu sangat berterima kasih terhadap dosen itu, setidaknya tanpa toleransi dengan sedikit belas kasihan.

Yang paling fatal dan merugikan hajat hidup orang banyak adalah di mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak 2. Waktu itu hari jumat minggu terakhir sebelum TAS Karena kesibukan yang tidak bisa didelegasikan, dengan terpaksa diriku tidak ikut dalam penyelesaian Tugas 2 Sistem Operasi. Sekitar jam 10 malam, teamku yang menggarap tugas tersebut menghubungiku untuk mengconvert tugas ke format odt dan mengirimkannya ke alamat email dosen pengampu. Begitu sampai di kost dengan segara check email, mengoreksi tugasnya lalu mengkonversi dari docx ke odt (Karena format tugas harus dikirim dengan format odt). Sialnya ketika akan mengirimkan tugas tersebut jaringan indosat down. Segera melihat silabus untuk mengetahui kapan paling lambat tugas dikumpulkan. Well di silabus tertulis bahwa tugas paling lambat dikumpulkan minggu terakhir sebelum TAS. Karena hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat tugas masih di approv aku mikirnya mungkin batas akhirnya hari minggu. Karena sangat lelah, jadi aku memutuskan untuk menunggu koneksi indosat dibandingkan segera berlari ke warnet terdekat. Fatalnya maksud dosen minggu terakhir itu adalah hari jumat pukul 24.00 hari itu. Pukul 1 pagi terbangun dengan santai, ngirim email sambil ngobrol ringan dengan teman kamar sebelah yang sepertinya belum tidur dan pukul 3 pagi mendengar kabar buruk dari plurk semuanya sudah terlambat yang artinya nilai 25 point harus siap melayang.

Sialnya lagi, 3 orang teamku yang sudah bersusah payah mengerjakan tugas tersebut harus juga menerima toleransi kehilangan 25 point. Seandainya hanya aku saja yang kehilangan point tentu tidak menjadi dilema yang berkepanjangan. Masalahnya ketiga orang temanku juga ikut-ikutan apa kata dunia..??? Berbagai cara sudah di tempuh untuk melobi dan merayu dosen agar meninjau kembali kebijaksanaanya mengingat waktu banyak orang yang mengalami kejadian yang sama (Untungnya tololnya ga aku seorang) lewat plurk, facebook, YM, email bahkan langsung menghadap dosen. Berbagi opsi sudah ditawarkan mulai dari tidak mendapat nilai, nilaiku di potong bahkan gugur mata kuliah ini agar setidaknya tiga orang temanku yang tidak bersalah itu mendapatkan haknya. Lagi - lagi tidak ada toleransi dari dosen bersangkutan. Begitu mendengar kabar tanpa toleransi tiba-tiba terasa dunia ini runtuh. Sakit sekali hati ini rasanya, diriku rasanya sudah tidak punya muka lagi bertemu mereka. Walaupun mereka bertiga bilang ga papa -- tapi dalam hati mereka siapa tahu. Kalau aku jadi mereka dah mencak-mencak, marah-marah trus protes ke dosen kalau ga bisa ke kaprodi atau malah langsung ke rektorat. Yang dipertaruhkan disini adalah kepercayaan. Gugur matakuliah itu paling dimarahin ortu kerasanya paling 3 hari, setelah itu bisa ngulang lagi. Lha sekarang aku harus menghadapi rasa bersalah setidaknya selama masih bersama-sama mereka mengenyam masa-masa kuliah. Jujur sampai sekarang aku masih ga enak hati kalau ketemu mereka bertiga.

Kalau dipikir lebih jauh, mungkin sikap yang tanpa toleransi itu bagus untuk mendidik seseorang agar lebih disiplin. Tapi apa saya kurang disiplin??? sepertinya masalah saya lebih kepada salah pengertian dari pada tidak disiplin. Walaupun Tuhan maha pengampun, tetap tidak ada kesempatan kedua bagi saya. Setidaknya kejadian ini mengingatkan saya bahwa memang dunia ini penuh dengan ketidak toleransian. Terutama untuk orang-orang kecil dan tertindas. Jadi ingat sebuah kisah tentang seorang nenek yang mencuri 3 buah biji kakao. Apalah artinya 3 buah biji kakao tapi tidak ada toleransi hukum toh harus tetap ditegakkan.


[readmore]